Hampir sepertiga pemilik ponsel pintar di Amerika Serikat kini mempertimbangkan untuk menyewa perangkat mereka berikutnya daripada membeli, sebuah pergeseran fundamental yang menandai berakhirnya kebiasaan konsumen dalam memperbarui gawai. Data survei Allstate Protection Plans pada Januari menunjukkan realitas ekonomi dan kesadaran bahwa ponsel berusia tiga tahun masih berfungsi baik mendorong perubahan perilaku ini.
Survei Allstate Protection Plans juga mengungkapkan bahwa hanya 22% warga Amerika yang kini melakukan upgrade ponsel dalam waktu 12 bulan. Mayoritas memilih untuk menunggu lebih lama, dengan 27% menunda hingga dua tahun dan 23% memperpanjang penggunaan hingga tiga sampai empat tahun. Perubahan ini mencerminkan adaptasi perilaku konsumen terhadap kondisi pasar yang berubah.
Daya tahan baterai kini menjadi pendorong utama dalam keputusan pembelian ponsel, melompat dari posisi kedua pada tahun 2023. Sementara itu, fitur kecerdasan buatan (AI), meskipun gencar dipromosikan, hanya memengaruhi 17% pembeli. Ini mengindikasikan bahwa konsumen lebih memprioritaskan fungsi dasar dan ketahanan perangkat untuk penggunaan sehari-hari.
Tekanan ekonomi juga menjadi faktor signifikan. Laporan TrendForce menunjukkan lonjakan harga memori sebesar 200% secara tahunan, yang kini menyumbang 30-40% dari biaya produksi ponsel. Kenaikan biaya komponen ini diperkirakan akan berdampak pada harga jual ke konsumen. TrendForce juga memproyeksikan penurunan produksi ponsel pintar global sebesar 15% pada tahun 2026.
Di tengah tekanan biaya hidup, pembelian ponsel flagship seharga US$1.200 terasa semakin tidak bijaksana bagi banyak konsumen. Model sewa menawarkan solusi dengan menyebarkan biaya melalui pembayaran bulanan, sekaligus mempertahankan fleksibilitas untuk upgrade di masa mendatang, asalkan kondisi ekonomi mendukung.
Produsen ponsel juga beradaptasi dengan tren ini dengan memperpanjang dukungan perangkat lunak. Google dan Samsung kini menjanjikan tujuh tahun pembaruan, sementara Apple berkomitmen lebih dari enam tahun. Dukungan jangka panjang ini mengubah ponsel dari sekadar gawai sekali pakai menjadi investasi jangka panjang yang aman dan fungsional.
Strategi ini memungkinkan produsen untuk menjaga konsumen tetap dalam ekosistem mereka lebih lama, mengurangi kemungkinan mereka beralih ke perangkat bekas atau kompetitor dengan harga lebih rendah. Pergeseran ini juga membentuk ulang model bisnis operator seluler dan nilai tukar tambah perangkat. Keputusan pembelian ponsel kini tidak hanya tentang fitur, melainkan juga tentang apakah kepemilikan masih relevan di tengah ekonomi yang lebih mengutamakan akses daripada aset.









Tinggalkan komentar