Bayangin deh, nonton pertandingan olahraga tapi kamu nggak cuma denger suaranya, tapi juga bisa lihat atau bahkan ngerasain getarannya? Nah, ini bukan lagi khayalan! Di Deaflympics Tokyo November 2025 nanti, teknologi baru bakal diuji coba buat mengubah cara kita merasakan atmosfer event olahraga. Tujuannya jelas, biar semua orang, termasuk teman-teman tunarungu, bisa ikut merasakan keseruannya tanpa ada yang ketinggalan.
Suara Jadi Visual: Tenis Meja Penuh Onomatopoeia
Di arena tenis meja, kamu nggak cuma fokus ke bola yang bolak-balik. Penonton tunarungu diajak buat ngelihat ke atas, di mana ada layar gede yang nampilin grafik animasi. Setiap pukulan bola bakal diwakili sama kata-kata onomatopoeia Jepang yang berani dan ekspresif. Jadi, kamu bisa “melihat” gimana kencengnya pukulan, seberapa cepat reli, atau kekuatan smash.
Ito Maki dari Asosiasi Tenis Meja Tunarungu Jepang bilang, “Dulu saya pemain, jadi lebih suka nonton pertandingannya langsung. Tapi buat yang nggak main atau tunarungu, ini bantu mereka paham lebih baik.” Teknologi ini keren banget karena onomatopoeia memang udah jadi bagian budaya Jepang, kayak di manga, jadi gampang banget buat dipahami. Ini bikin penonton baru pun langsung ngerti konteks pertandingan.
Navigasi Kota yang Lebih Ramah dengan AI
Nggak cuma di arena olahraga, Tokyo juga jadi “laboratorium hidup” buat teknologi aksesibel di perkotaan. Di 19 stasiun Toei Metro, ada layar transparan dari Toppan yang bisa menerjemahkan suara ke teks. Jadi, komunikasi buat semua pengunjung, mau tunarungu atau pendengar, jadi lebih gampang, bahkan kalau beda bahasa sekalipun.
Terus, di Deaflympics Square, ada display transportasi canggih dari Fujitsu yang pakai AI. Alat ini bisa dengerin pengumuman di peron, kereta yang datang, bel peringatan, sampai musik latar. Semua suara itu diubah jadi teks dan bahasa isyarat di layar. Yang bikin lebih spesial, perangkat ini dibikin bareng anak-anak dari Sekolah Tunarungu Kota Kawasaki. Sara-Elise Ruokonen, atlet Deaflympics dari Finlandia, setuju banget kalau orang tunarungu harus dilibatkan dalam desain, “Karena kami paling tahu apa yang kami butuhkan.”
Merasa Olahraga Lewat Getaran: Judo yang Bikin Deg-degan
Di Tokyo Budokan, tempat pertandingan judo tunarungu, penonton pakai alat getaran dari Hapbeat. Jadi, setiap gerakan judoka, mulai dari pegangan, geseran kaki, sampai lemparan, semua ditangkap sensor di matras dan diubah jadi getaran yang bisa dirasakan penonton.
Eri Terada, penggemar judo tunarungu dari Jepang, cerita, “Gesekan kaki terasa getaran ringan, benturan lebih kuat. Kalau ada yang dilempar, rasanya gedebuk berat. Beda banget tiap gerakan.” Sano Akira, mantan perenang, juga ngerasa terbantu banget buat tahu kapan pertandingan mulai atau selesai, “Ini bikin berasa banget kayak ada di sana.”
Inovasi yang Menyatukan Semua Penggemar
Memang sih, ada beberapa suara yang masih susah diotomatisasi, kayak nuansa reaksi penonton. Makanya, ada operator manusia yang bantu ngatur getaran tepuk tangan atau sorakan secara real time. Uniknya, alat ini juga menarik perhatian penonton yang bisa mendengar. Nana Watanabe, penonton pendengar dari Jepang, bilang, “Meskipun saya bisa dengar, alat ini beneran nyampein atmosfernya. Rasanya kami bisa berbagi intensitas bersama.”
Deaflympics ini nggak cuma tentang olahraga, tapi juga tentang menciptakan pengalaman yang bisa dinikmati semua orang. Contoh lain, ada perangkat Sound Hug dari Pixie Dust Technologies yang bentuknya kayak bola. Saat dipegang, bola ini bisa bergetar dan ngeluarin cahaya sesuai irama musik, bahkan ngasih tahu emosi di balik musiknya. Diksha Dagar, pegolf peraih medali emas Deaflympics, bilang, “Kami bisa merasakan musik dan getarannya. Ini menerjemahkan suara buat orang tunarungu.”
Deaflympics ini jadi bukti nyata kalau teknologi inklusif itu penting banget. Ketika aksesibilitas jadi prioritas utama, bukan cuma tambahan, suara bisa diubah jadi visual, bisa dirasakan, dan bikin semua orang bisa menikmati keseruan olahraga. Masa depan olahraga nggak lagi sunyi, tapi hidup banget, penuh warna, dan bisa dirasakan siapa saja!









Tinggalkan komentar