Peneliti dari Microsoft berhasil menemukan cara revolusioner untuk menyimpan data digital menggunakan laser yang ditembakkan ke dalam kaca. Metode baru ini diklaim bisa menjaga informasi tetap aman dan utuh hingga 10.000 tahun ke depan. Terobosan ini jadi angin segar di tengah masalah ledakan data global dan risiko kehilangan informasi penting karena sistem penyimpanan yang rentan rusak.
Saat ini, hampir semua informasi di dunia tersimpan secara digital. Tiap tahun, data yang kita hasilkan makin bejibun, apalagi sejak kehadiran AI yang butuh banyak banget data. Akibatnya, jumlah informasi digital yang perlu kita simpan naik drastis dan eksponensial.
Sayangnya, media penyimpanan data yang ada sekarang punya kelemahan. Richard Black, direktur riset Project Silica Microsoft, bilang kalau media penyimpanan kayak hard drive atau pita magnetik itu gampang rusak dan harus sering diganti. Ini yang bikin kita sering kehilangan data penting atau harus rajin nge-backup data setiap generasi agar tidak korup.
Beda banget sama kaca, material ini enggak punya masalah kayak gitu. Kaca itu super awet dan bisa tahan terhadap panas ekstrem, kelembapan tinggi, gangguan elektromagnetik, bahkan kerusakan fisik. Makanya, kaca dianggap sebagai solusi jitu untuk penyimpanan data jangka panjang yang lebih praktis dan bukan cuma sekadar eksperimen sains.
Microsoft sendiri sudah lama banget menggarap proyek penyimpanan data di kaca ini. Dulu, sekitar enam tahun lalu, ide ini masih berupa konsep. Tapi sekarang, pada 18 Februari lalu, Project Silica Microsoft sudah mempublikasikan makalah di jurnal ilmiah Nature yang nunjukkin kemajuan signifikan, terutama dalam hal biaya yang lebih terjangkau.
Awalnya, para peneliti menggunakan kaca jenis fused silica yang biasa dipakai di komponen laser atau semikonduktor. Masalahnya, kaca ini mahal banget buat diproduksi, jadi bikin teknologi penyimpanannya jadi enggak ekonomis. Tapi, mereka berhasil menemukan cara untuk menyimpan informasi di kaca borosilikat, jenis kaca yang biasa kamu temukan di peralatan masak dapur. Ini jelas bikin biaya produksinya turun drastis.
Cara kerjanya pakai laser femtosecond, yang super cepat banget, cuma seperempatriliun detik. Laser ini menembakkan pulsa sangat cepat, mirip kayak laser yang dipakai buat operasi mata karena bisa memotong di bawah permukaan tanpa merusak bagian atasnya. Lasernya akan membuat “voxel” di dalam kaca. Voxel itu kayak piksel, tapi dia menyimpan informasi dalam tiga dimensi, mirip kubus, bukan cuma dua dimensi. Kalau kamu main Minecraft, pasti familiar sama konsep voxel ini.
Richard Black menjelaskan bahwa penemuan kuncinya adalah “phase voxels”, yaitu perubahan kecil yang terkontrol yang ditulis di dalam kaca borosilikat biasa hanya dengan satu pulsa laser. Ini membuat proses menulis dan membaca data jadi lebih sederhana dan cepat, serta memungkinkan penggunaan kaca murah ketimbang material khusus yang mahal.
Karena kaca adalah material yang keras, bentuknya enggak akan berubah seiring waktu. Ini yang bikin metode penyimpanan data pakai kaca bisa menjaga integritas data jauh lebih lama dibanding sistem komputer standar. Untuk mengambil datanya, Project Silica sudah bikin “arsip” khusus buat menyimpan kepingan kaca ini. Robot akan mengambil kepingan kaca tersebut, lalu jaringan saraf (neural network) akan membaca data yang tersimpan di dalamnya.
Teknologi ini sudah diuji coba dalam beberapa proyek penting. Pada tahun 2019, Project Silica berhasil menyimpan film Superman tahun 1978 ke dalam sebuah kepingan kaca seukuran tatakan gelas minuman. Lalu, di Svalbard, Norwegia, teknologi ini dipakai untuk proyek Global Music Vault, yang tujuannya untuk mengamankan berbagai jenis musik di masa depan. Microsoft juga bilang kalau teknologi ini bisa melengkapi proyek lain seperti Global Seed Vault di Svalbard, semacam “brankas kiamat” yang menyimpan cadangan benih tanaman dari seluruh dunia.
Black menegaskan, kaca itu sangat tahan banting, tahan panas, kelembapan, gangguan elektromagnetik, dan kerusakan fisik, jauh lebih baik daripada hard drive atau pita magnetik. Umurnya juga jauh lebih panjang, artinya data enggak perlu sering-sering disalin ulang setiap beberapa tahun. Karena tahan terhadap kerusakan alami dan enggak butuh listrik terus-menerus atau penggantian berkala, teknologi ini sangat cocok buat arsip. Dalam jangka panjang, metode ini bahkan bisa lebih berkelanjutan dibanding teknologi penyimpanan data yang kita pakai sekarang.









Tinggalkan komentar