Bret Taylor Ketua OpenAI: Hindari AI di Rapat Dewan, Takut Kualitas Rapat Turun

Farhan Rizky

Februari 24, 2026

3 menit baca
Min Read
Bret Taylor Ketua OpenAI: Hindari AI di Rapat Dewan, Takut Kualitas Rapat Turun

, sosok penting di balik OpenAI sebagai ketuanya, baru-baru ini bikin pernyataan yang cukup menarik perhatian. Ia secara terang-terangan tidak menganjurkan para anggota dewan perusahaannya untuk menggunakan kecerdasan buatan atau AI dalam setiap rapat. Menurut Taylor, ada kekhawatiran besar bahwa penggunaan AI justru bisa mengubah esensi rapat itu sendiri, membuatnya jadi kurang efektif atau bahkan kehilangan sentuhan manusianya. Selain itu, ia juga sempat berbagi pandangannya mengenai fenomena yang disebut “gelembung AI” yang sedang ramai dibicarakan.

Pernyataan dari Bret Taylor ini tentu saja jadi sorotan. Mengingat posisinya sebagai ketua dari OpenAI, perusahaan yang justru jadi pelopor dan pemimpin di bidang pengembangan AI, pandangannya ini terasa kontras tapi juga sangat relevan. Seolah-olah, ia ingin mengingatkan kita semua bahwa meskipun AI itu canggih, ada batasan dan konteks di mana interaksi manusia tetap tak tergantikan.

Lagi viral:  Bocoran! OpenAI Siap Rilis Smart Speaker, glasses, lamp AI Canggih di 2027

Bayangkan saja, sebuah rapat dewan itu kan bukan sekadar tukar informasi. Di sana ada diskusi mendalam, perdebatan sengit, negosiasi, sampai pengambilan keputusan strategis yang butuh intuisi, empati, dan pemahaman nuansa yang kompleks. Mungkin saja, kekhawatiran Taylor muncul karena ia melihat potensi AI bisa membuat proses ini jadi terlalu mekanis atau bahkan dangkal.

Ketika AI digunakan untuk merangkum poin-poin, menyusun agenda, atau bahkan memberikan saran instan, ada risiko anggota dewan jadi terlalu bergantung. Mereka mungkin melewatkan detail penting, gagal membaca bahasa tubuh atau ekspresi wajah yang jadi bagian krusial dari komunikasi non-verbal, atau bahkan kehilangan kesempatan untuk berpikir kritis dan berargumen secara spontan. Rapat pun bisa jadi terasa kurang hidup, kurang dinamis, dan akhirnya kurang produktif.

Lagi viral:  Peter Steinberger, Pencipta OpenClaw, Bergabung dengan OpenAI

Selain soal penggunaan AI di rapat, Bret Taylor juga menyoroti isu “gelembung AI”. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana valuasi atau harga pasar perusahaan-perusahaan AI naik drastis dan sangat cepat, seringkali melebihi nilai fundamental atau potensi keuntungan riil mereka. Hal ini didorong oleh ekspektasi yang sangat tinggi dan investasi besar-besaran di sektor AI.

Fenomena gelembung teknologi sebenarnya bukan hal baru. Kita pernah melihatnya di era dot-com pada akhir 90-an. Saat itu, banyak perusahaan internet yang valuasinya meroket tapi akhirnya kolaps karena model bisnisnya belum matang. Nah, kekhawatiran akan “gelembung AI” ini muncul karena melihat pola serupa: investasi besar, hype yang luar biasa, dan janji-janji masa depan yang sangat ambisius.

Taylor mungkin ingin mengingatkan bahwa meskipun potensi AI itu luar biasa, kita perlu tetap realistis. Antusiasme yang berlebihan tanpa dibarengi fondasi bisnis yang kuat dan pemahaman yang mendalam tentang batasan teknologi, bisa jadi bumerang. Ia seolah mengajak kita untuk berpikir lebih jernih dan strategis, tidak hanya terpukau oleh kilauan teknologi semata.

Lagi viral:  Karikatur AI Ramadan Lagi Hits di ChatGPT: Indonesia Nomor 3!

Pada akhirnya, pandangan Bret Taylor ini memberikan perspektif yang berharga. Di satu sisi, ia adalah pemimpin di perusahaan AI terkemuka, yang berarti ia sangat paham potensi AI. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa ada hal-hal fundamental dalam interaksi manusia dan dunia bisnis yang mungkin tidak bisa digantikan atau bahkan dirusak oleh AI jika digunakan tanpa bijak. Ini adalah pengingat penting bagi kita semua, terutama di era di mana AI semakin meresap ke berbagai aspek kehidupan.

Tinggalkan komentar

Related Post

Tinggalkan komentar