Pada Selasa, xAI, perusahaan kecerdasan buatan (AI) milik Elon Musk, kehilangan co-founder keduanya dalam dua hari. Peneliti berpengaruh Jimmy Ba mengumumkan pengunduran dirinya di platform X, menyusul pengumuman Tony Wu sehari sebelumnya. Peristiwa ini terjadi setelah perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan Musk, SpaceX, mengakuisisi xAI dalam transaksi seluruh saham senilai US$1,25 triliun.
Pengunduran diri Ba diumumkan melalui unggahan di X, di mana ia menyatakan rasa syukurnya telah membantu mendirikan xAI sejak awal. Ba, seorang profesor dari University of Toronto, dikenal atas penelitian krusialnya yang memengaruhi model AI Grok versi 4 milik perusahaan. Kepergiannya menyusul Tony Wu, co-founder lain, yang juga mengumumkan pengunduran dirinya sehari sebelumnya, menandai eksodus co-founder dari xAI.
Akuisisi xAI oleh SpaceX, yang terjadi awal bulan ini, merupakan transaksi seluruh saham yang memecahkan rekor. Berdasarkan dokumen yang dilihat oleh CNBC, valuasi SpaceX mencapai US$1 triliun dan xAI senilai US$250 miliar, sehingga total nilai akuisisi mencapai US$1,25 triliun. Eksodus co-founder ini terjadi saat SpaceX bersiap untuk melantai di bursa saham (IPO) pada tahun ini.
Selain Ba dan Wu, beberapa co-founder lain seperti Igor Babuschkin, Kyle Kosic, dan Christian Szegedy juga telah meninggalkan perusahaan kecerdasan buatan milik Musk tersebut. Bulan lalu, Greg Yang mengumumkan bahwa ia akan mundur dari perannya untuk fokus pada perjuangannya melawan penyakit Lyme.
Pengunduran diri ini juga terjadi di tengah penyelidikan regulasi yang dihadapi xAI di berbagai yurisdiksi di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Penyelidikan tersebut dimulai setelah chatbot AI Grok dan generator gambar milik perusahaan memungkinkan pembuatan massal dan sindikasi gambar eksplisit tanpa persetujuan, yang dikenal sebagai deepfake pornografi. Gambar-gambar tersebut didasarkan pada foto orang sungguhan, termasuk anak-anak.
Elon Musk meluncurkan xAI pada 2023 bersama 11 orang lainnya, dengan tujuan bersaing dengan OpenAI dan Google. Tujuan perusahaan saat itu adalah untuk “memahami sifat sejati alam semesta,” menurut situs webnya. Sebelumnya, Musk juga menggunakan xAI untuk mengakuisisi jejaring sosialnya X, yang sebelumnya bernama Twitter, dalam transaksi seluruh saham lain yang diumumkan pada Maret 2025.









Tinggalkan komentar