Presiden OpenAI, Greg Brockman, memicu gejolak internal yang intens di perusahaan pencipta ChatGPT setelah terungkap menyumbangkan jutaan dolar untuk kampanye politik Donald Trump. Langkah ini, yang dikonfirmasi Brockman dalam wawancara eksklusif dengan WIRED, menuai penolakan keras dari karyawan yang menganggapnya bertentangan dengan misi inti OpenAI untuk memberi manfaat bagi kemanusiaan.
Dalam wawancara tersebut, Brockman secara terbuka membela keputusannya menyalurkan sumbangan jutaan dolar ke operasi politik Trump. Ia bersikeras bahwa dukungan finansial tersebut sejalan dengan tujuan OpenAI. “Sumbangan ini mendukung misi OpenAI,” ujar Brockman kepada WIRED, meskipun ia mengakui adanya perbedaan pandangan di antara staf. Ia mengakui bahwa “beberapa karyawan di perusahaan tidak setuju.”
Namun, pernyataan Brockman tersebut dinilai meremehkan situasi internal. Menurut sumber yang akrab dengan diskusi di dalam perusahaan, pengungkapan sumbangan ini telah memicu “badai” dan perdebatan sengit di saluran komunikasi internal, termasuk Slack. Sejumlah staf bahkan mulai secara serius mempertanyakan apakah afiliasi politik pimpinan dapat secara langsung mempengaruhi arah dan pengembangan teknologi kecerdasan buatan umum (AGI) di masa depan.
Kontroversi ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara aktivitas politik yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan AI dengan misi keselamatan dan etika yang sering mereka nyatakan. Ini juga menimbulkan pertanyaan krusial mengenai sejauh mana pengaruh politik dapat membentuk pengembangan kecerdasan buatan, teknologi yang berpotensi menentukan masa depan.
Waktu pengungkapan ini sangat genting bagi OpenAI. Perusahaan yang didirikan bersama oleh Brockman dan Sam Altman ini sedang menjalani transformasi kompleks dari akar nirlabanya menuju struktur yang berorientasi keuntungan. Baru-baru ini, OpenAI berhasil menyelesaikan putaran pendanaan yang menilainya lebih dari US$150 miliar, menunjukkan skala ambisinya.
Di tengah transisi ini, OpenAI terus bekerja sama dengan investor dan mitra utamanya, Microsoft. Sementara itu, persaingan di industri AI semakin ketat, dengan raksasa teknologi seperti Google, Meta, dan Anthropic yang berlomba untuk menutup kesenjangan dalam kemampuan model bahasa besar mereka. Gejolak internal ini menambah lapisan tantangan baru bagi kepemimpinan perusahaan.









Tinggalkan komentar