Rusia secara resmi memblokir layanan pesan instan WhatsApp pada Kamis, memutus akses bagi sekitar 100 juta penggunanya di negara tersebut. Langkah ini menandai tindakan paling agresif Kremlin dalam menindak platform pesan Barat, sekaligus melengkapi upaya isolasi digital yang intensif.
Pemblokiran WhatsApp ini merupakan langkah sensor digital paling luas yang dilakukan Kremlin dalam beberapa tahun terakhir. Ini juga menjadi tindakan terbesar terhadap aplikasi pesan sejak Telegram menghadapi pembatasan serupa pada tahun 2018. Dengan keputusan ini, Meta, perusahaan induk WhatsApp, kini menghadapi penghentian total semua layanannya di Rusia.
Sebelumnya, platform media sosial Meta lainnya, Facebook dan Instagram, telah dilarang beroperasi di Rusia sejak tahun 2022. Larangan tersebut diberlakukan setelah pengadilan Rusia menetapkan Meta sebagai “organisasi ekstremis.” WhatsApp adalah properti utama Meta terakhir yang masih beroperasi dan dapat diakses oleh warga Rusia.
Langkah ini menggarisbawahi strategi isolasi digital Rusia yang semakin cepat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan perusahaan teknologi Barat. Rusia telah memperketat cengkeramannya pada platform teknologi Barat sejak tahun 2022, namun WhatsApp relatif tidak tersentuh hingga saat ini.
Pemerintah Rusia menyebut kampanye ini sebagai upaya “kedaulatan digital,” yang bertujuan untuk membatasi internetnya dari layanan global yang tidak dapat dikendalikan. WhatsApp, dengan fitur enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) yang kuat, telah menjadi jalur komunikasi penting bagi warga Rusia yang mencari interaksi tanpa sensor, menjadikannya target utama bagi pihak berwenang.
Meta mengonfirmasi upaya pemblokiran penuh platformnya pada Kamis pagi, meskipun perusahaan belum merilis pernyataan rinci mengenai potensi solusi atau upaya banding. Kremlin dengan cepat menguatkan informasi mengenai penutupan tersebut, menunjukkan bahwa ini bukanlah gangguan teknis, melainkan keputusan kebijakan yang terkoordinasi. Regulator telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, telah memperluas kemampuan teknisnya untuk menegakkan batas-batas digital, dan pemblokiran ini menunjukkan efektivitas alat tersebut.
Bagi pengguna di Rusia, pilihan alternatif untuk komunikasi menjadi terbatas. Telegram, meskipun memiliki riwayat konflik dengan otoritas Rusia, tetap tersedia dan kemungkinan akan mengalami lonjakan besar pengguna. Layanan pesan berbasis Rusia, VKontakte (VK), juga berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar. Namun, keterikatan VK yang mendalam dengan pemerintah Rusia menimbulkan kekhawatiran tentang potensi pengawasan bagi penggunanya.
Pemblokiran ini tidak hanya mengubah cara warga Rusia berkomunikasi, tetapi juga mengancam model bisnis raksasa media sosial di Silicon Valley. Ini merupakan bagian dari pola isolasi digital yang lebih luas yang terus membentuk kembali lanskap teknologi di Rusia.









Tinggalkan komentar