Seedance 2.0: AI Video ByteDance Diprotes Hollywood Soal Hak Cipta

Raditya Pratama

Februari 16, 2026

3 menit baca
Min Read
Seedance 2.0: AI Video ByteDance Diprotes Hollywood Soal Hak Cipta

Baru sehari dirilis, Seedance 2.0, alat pembuat video berbasis AI dari ByteDance, langsung bikin heboh. Studio-studio besar di Amerika Serikat menuding layanan ini memakai karakter, film, dan aktor terkenal tanpa izin, memicu perdebatan sengit tentang hak cipta di industri hiburan yang nilainya triliunan rupiah.

Seedance 2.0 sendiri adalah generator video AI terbaru dari ByteDance, perusahaan China yang juga punya TikTok. Mereka mengklaim alat ini bisa bikin video ultra-realistis cuma dari perintah teks singkat. Bayangkan saja, kamu bisa bikin video Tom Cruise dan Brad Pitt berantem di atap gedung, atau karakter Friends jadi berang-berang, bahkan adegan baru ala Breaking Bad atau Lord of the Rings.

Menurut laporan dari BBC dan Variety pada 16 Februari 2026, video-video hasil Seedance 2.0 ini langsung viral di media sosial. Tapi, Motion Picture Association (MPA), organisasi yang mewakili raksasa seperti Netflix, Disney, Warner Bros Discovery, Paramount, Sony, Universal, sampai Amazon MGM Studios, langsung bereaksi. Mereka bilang ByteDance sudah menggunakan karya berhak cipta secara ilegal dalam skala besar.

Lagi anget:  Cineverse Akuisisi IndiCue Senilai Rp 673,31 Miliar, Perkuat Monetisasi Iklan

Ketua dan CEO MPA, Charles Rivkin, bahkan meminta ByteDance untuk segera menghentikan aktivitas ini karena dianggap tidak punya perlindungan yang cukup terhadap pelanggaran hak cipta. ByteDance sendiri merespons bahwa konten yang jadi masalah itu dibuat saat fase uji coba terbatas sebelum peluncuran penuh. Mereka juga bilang sudah menonaktifkan fitur unggah gambar orang nyata, sedang menyusun kebijakan dan mekanisme pemantauan tambahan, dan berkomitmen menghormati hak kekayaan intelektual.

Namun, sampai sekarang belum ada detail resmi apakah ByteDance bakal membuka skema lisensi seperti yang dilakukan OpenAI. Sebagai perbandingan, saat OpenAI merilis Sora dua tahun lalu dan kena protes serupa, mereka akhirnya memperketat sistem pembatasan dan bahkan menandatangani lisensi untuk 200 karakter Disney agar bisa dipakai secara legal. Apakah ByteDance akan mengikuti jejak yang sama? Kita tunggu saja.

Kekhawatiran utama para pekerja film memang besar. Penulis Deadpool, Rhett Reese, bilang perkembangan ini menakutkan karena satu orang dengan komputer bisa bikin film setara produksi studio besar. Sementara itu, penulis Saturday Night Live dan Rick & Morty, Heather Anne Campbell, melihat banyak hasil Seedance mirip fan fiction, artinya ide orisinal tetap jadi tantangan terbesar. Kalau satu orang bisa bikin “film ala Hollywood” dari laptop, posisi studio dan pekerja industri bisa terancam banget.

Lagi anget:  Traveloka PHK Karyawan Fokus AI: Ini Strategi Barunya

Meskipun polemik ini terjadi di AS, dampaknya bisa meluas ke mana-mana, termasuk Indonesia. Kalau kamu seorang kreator di Indonesia yang sering bikin video AI pakai karakter populer, ingat ya, Indonesia punya UU Hak Cipta dan UU ITE. Jika AI generatif makin sering dipakai untuk konten berbasis IP terkenal, bukan tidak mungkin aturan lokal kita akan diperketat. Video ultra-realistis memang keren, tapi juga membuka celah penyalahgunaan.

Membuat film realistis itu butuh kru besar, kamera mahal, dan waktu panjang. Pakai karakter terkenal juga butuh izin resmi dan biaya lisensi tinggi. Tapi sekarang, cuma dengan dua baris teks, kamu bisa bikin adegan sinematik dan langsung distribusikan lewat media sosial. Ini bikin batas antara karya resmi dan buatan AI makin kabur, dan beban pembuktian pelanggaran hak cipta jadi makin kompleks.

Lagi anget:  Samsung Umumkan Galaxy Unpacked 25 Februari, Ungkap Ponsel AI Terbaru

Jadi, buat kamu para kreator di Indonesia, beberapa langkah aman yang bisa kamu lakukan adalah:

Hindari menggunakan nama aktor atau karakter berlisensi dalam perintah teks kamu.

Selalu cek kebijakan platform sebelum mengunggah karya.

Simpan bukti bahwa karya kamu itu murni dari ide sendiri.

Kalau ragu, anggap saja IP terkenal itu seperti “merek dagang mahal” – bukan bahan yang bisa dipakai bebas.

Seedance 2.0 ini nunjukkin seberapa cepat AI video berkembang. Dalam hitungan hari, sudah memicu ketegangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak cipta. Apakah ini awal revolusi industri film atau cuma fase eksperimen yang bakal dikendalikan lewat lisensi dan regulasi, masih harus kita lihat. Yang jelas, perkembangan selanjutnya patut ditunggu!

Tinggalkan komentar

Related Post

Tinggalkan komentar